Artikel & Event
Sumber Air Alternatif untuk Daerah yang Sulit Air
Air adalah kebutuhan pokok makhluk hidup di bumi untuk dapat bertahan hidup. Sekalipun bumi mengandung sekitar 71% air, hanya 1% yang bisa diakses dan digunakan untuk keperluan manusia. Ini juga belum termasuk daerah-daerah dengan faktor eksternal atau di luar alamiah, yang bisa mempersulit akses. Bagaimana karakter daerah yang dimaksud? Dan apakah ada sumber air alternatif yang bisa dimanfaatkan? Simak selengkapnya di artikel berikut.
Penyebab Sulitnya Akses Air
![]()
Dengan ribuan pulau dan alam yang kaya, tidak membuat Indonesia bebas dari kelangkaan air. Ada beberapa alasan yang bisa menciptakan situasi ini, mengutip WWF, seperti:
1. Jumlah Penduduk yang Tinggi
PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menyebut bahwa setidaknya 1 orang membutuhkan penggunaan 50-100 liter per hari. Artinya, untuk kota berpenduduk 1 juta orang, idealnya membutuhkan 50-100 juta liter per hari (50.000-100.000m3/hari).
Jika melihat data jumlah penduduk dari BPS pada pertengahan 2024 dan laporan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (2025), Pulau Jawa mengalami defisit: ketersediaan air bersih sekitar 89,8 ribu m³/tahun, sementara kebutuhannya 372,7 ribu m³/tahun. Dengan angka ini, ketersediaan baru sekitar 24,1% dari kebutuhan, atau kebutuhan sekitar 4,15 kali lebih besar daripada ketersediaannya.
2. Pencemaran Air
Kasus air yang tercemar bukanlah hal baru di Indonesia. Limbah rumah tangga, sampah, bahan kimia, dan buangan industri bisa merusak kualitas sungai, danau, bahkan air tanah. Ketika kualitas turun, biaya pengolahan naik, risiko kesehatan meningkat, dan banyak orang terpaksa mencari sumber lain yang lebih jauh atau lebih mahal. Di beberapa area, pencemaran ini membuat sumur dangkal berbau, keruh, sampai mengandung zat tertentu yang mengganggu pemakaian sehari-hari.
3. Konflik
Ketika air terbatas, masyarakat akan berebutan akses. Konflik bisa muncul antarwarga, antarwilayah, sampai antara kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan usaha. Perselisihan biasanya dipicu oleh pembagian jatah, penggunaan sumber air alami yang sama, atau pengambilan air berlebihan oleh pihak tertentu. Situasi ini membuat distribusi air menjadi tidak merata, dan kelompok yang infrastrukturnya lebih lemah sering menjadi yang paling terdampak.
4. Perubahan Iklim
Perubahan musim belakangan makin sulit diprediksi. Musim kemarau lebih panjang dan panas, musim hujan yang kadang intensitasnya tinggi dalam waktu singkat, sehingga lebih berisiko banjir karena air tidak sempat meresap ke tanah. Akibatnya, wilayah yang sebelumnya aman bisa masuk kategori rawan, karena siklus “isi ulang” cadangan air berubah dan tidak lagi stabil dari tahun ke tahun.
5. Topografi
Penyebab yang terakhir ialah topografi, atau kondisi fisik suatu wilayah, seperti perbukitan, kawasan karst, dan wilayah pesisir.
Sumber Air Alternatif yang Bisa Dicoba
Tapi tidak perlu khawatir apabila daerah Sahabat SHIMIZU memiliki akses terbatas. Kami telah merangkum sumber air alternatif yang bisa dilakukan di rumah.
1. Tampungan Air Hujan
Tampungan air hujan jadi langkah paling mudah saat akses air terbatas. Air dari atap dialirkan lewat talang dan pipa menuju tandon tertutup, lalu disaring sejak awal agar kotoran seperti daun dan pasir tidak ikut masuk. Air ini paling aman dipakai untuk kebutuhan non-konsumsi seperti menyiram tanaman, mengepel, mencuci kendaraan, atau flush toilet.
2. Sumur Bor
Seringkali di musim kemarau debit air di sumur tidak stabil. Sahabat SHIMIZU bisa mempertimbangkan sumur bor, dengan mem-bor tanah lebih dalam lagi. Caranya ialah menentukan titik dan kedalamannya terlebih dulu, lalu menggunakan pompa sesuai kebutuhan debit dan kondisi sumur. Agar pasokan lebih lancar, air bisa ditampung dulu di tandon sebelum disalurkan ke titik pemakaian di rumah atau bangunan.
SHIMIZU punya berbagai jenis pompa air submersible yang bisa membantu Sahabat SHIMIZU mendapatkan sumber air alternatif di rumah. Semua produk SHIMIZU memiliki gulungan motor (copper winding) 100% kawat tembaga agar lebih stabil dan panas motor lebih terkendali), dan garansi motor selama 1 tahun.
3. Sumur Resapan
Sumur resapan berfungsi menjaga cadangan air tanah agar sumur di sekitar tetap terisi. Air hujan dari halaman atau talang diarahkan ke lubang resapan yang aman, sehingga air meresap kembali ke tanah dan tidak langsung terbuang sebagai limpasan. Cara ini membantu memperbaiki daya resap lahan, mengurangi genangan, dan memperkuat cadangan air saat kemarau. Penempatan wajib jauh dari septic tank dan sumber limbah agar kualitas air tanah tetap terjaga.
4. Air Permukaan
Air permukaan bisa dimanfaatkan bila lokasi bangunan dekat sungai, danau, atau saluran irigasi. Air diambil menuju tandon, lalu melewati filter bertahap sebelum dipakai agar lebih aman dan tidak cepat merusak instalasi. Sumber ini cenderung mudah diakses, tetapi kualitas airnya sering berubah.
5. Dropping Air
Cara terakhir untuk mendapatkan sumber air adalah dengan dropping air. Biasanya dropping datang dari mobil tangki atau dari kerja sama dengan pihak yang memiliki sumber air lebih stabil, seperti saat bencana banjir di Aceh pada Desember 2025, di mana Palang Merah Indonesia (PMI) mengirim 60 truk tangki air ke Aceh. Tidak terbatas saat bencana, dropping air juga bisa dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
Kesimpulan
Walaupun negara kepulauan yang kaya akan air, Indonesia tidak bisa luput dari masalah air bersih. Jumlah penduduk yang tinggi, pencemaran air, konflik sosial, perubahan iklim, hingga kondisi topografi sangat berpengaruh dalam ketersediaan air bersih.
Sahabat SHIMIZU bisa melakukan empat sumber air alternatif yang telah disebutkan di atas, jika mengalami masalah ketersediaan air. Untuk urusan pompa booster, Sahabat SHIMIZU bisa mempercayakannya pada SHIMIZU, selain terbuat dari material terbaik dan Italia, SHIMIZU juga punya pusat layanan terintegrasi di seluruh Indonesia.